PERJUMPAAN SAINS DAN AGAMA
PERSPEKTIF JOHN F. HAUGHT
Ahmad Nurcholis, M.Pd
IAIN Tulungagung Jawa
Timur
Selama hampir 25 tahun Haugth memberi kursus
tentang sains dan agama bagi para mahasiswa pramaster di Universitas
Georgetown. Ia mengajarkan bahwa kebudayaan, etika dan bahkan agama manusia pun
dipengaruhi oleh pembatas-pembatas genetik. Semuanya bagaikan peta kosmik yang
dapat bergeser secara dramatik. Arah masa depan sejarah bergantung pada
keputusan generasi sekarang ini menyangkut relasi antara agama dan sains. Buku
yang ia tulis berjudul Science and Religion: From Conflik and
Conversation merupakan pengantar
bagi kaum awam (non ahli) menuju
masalah-masalah pokok dalam sains dan agama dewasa ini. Tujuannya adalah
membangun dialog. Haught mengartikan agama sebagai gambaran eksistensi Tuhan
yang transenden, penuh kasih, kreatif, personal dan redemptive.
Sedangkan sains adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematik, yang
bahan-bahannya terdapat di luar diri
manusia yang berupa obyek nyata dan bersifat empiris. Keduanya bertemu
pada titik dimana eksistensi kreatifitas Tuhan tergambar dalam dua dimensi
transenden dan empiris sejauh kuasa akal (sains) dan keyakinan (agama) manusia
menemukannya.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bagi agama, keberhasilan gilang-gemilang sains di
berbagai aspek kehidupan manusia, terutama sejak Renaisans, sekurang-kurangnya
menimbulkan tanggapan yang mendua: harapan baru dan juga kekhawatiran baru.
Agama mungkin bisa mengharapkan sains membersihkan
unsur-unsur takhayuli yang menyusup, disadari atau tidak, ke dalam
ajaran-ajarannya. Tetapi, agama juga khawatir, kalau-kalau sains akan
menyisihkannya, atau malah meniadakannya. Meskipun harapan ini tampaknya tidak
terpenuhinya, kecemasannya pun untungnya tidak terlalu mengkhawatirkan.
Pada kenyataannya, agama menjalin hubungan dangan
sains dalam pola yag tidak sederhana. Ada spektrum yang cukup luas dalam
pandangan tentang hubungan agama-sains: dari ekstrem konflik hingga peleburan
total. Dalam Perjumpaan Sains dan Agama, sang pengarang menampilkan empat kubu
yang berbeda "konflik, kontras, kontak, konfirmasi" di panggung
perdebatan.
Dengan lahirnya
agama, tidak saja telah menjadikan umat manusia memiliki iman, tapi hal lain
yang tidak bisa dipandang sebelah mata adalah terbangunnya manusia yang
beretika, bermoral dan beradab yang menjadi pandangan hidup bagi manusia dalam
menjalani hidup di dunia. Sementara sains dengan puncak perkembangan yang telah
dicapai, juga telah menjadikan kemajuan dunia dengan berbagai penemuan yang
gemilang.
Meski kemudian, dari
sengketa itu lambat laun bisa diterima oleh sebagian kaum agamawan, berkat
penemuan terbaru sains, setidaknya telah menunjukkan pergeseran akan hubungan
yang sebenarnya tak melulu saling berseteru. Dengan kata lain, dalam perdebatan
mengenai hubungan sains dan agama, tidak selalu membangun simpul
kesepakatan.
Ada ruang kosong yang
itu merupakan ruang debat yang tak sederhana, melainkan juga amat membingungkan
dan bahkan membuat "pusing" kepala.
Memang, harus diakui
bahwa "nasib" agama dikhawatirkan bisa terancam dengan kemunculan
sains yang seolah menyerang agama habis-habisan. Kendati demikian, tetaplah
muncul pula sebuah harapan akan peranan sains dalam menyingkirkan unsur-unsur
"takhayul" dalam ajaran agama dan dengan itu bisa membantu agama tetap
eksis "dipeluk" umat manusia karena bersifat rasional.
Perdebatan sengit
seputar hubungan sains dan agama yang cukup rumit dan pelik sepanjang
sejarah itulah yang dihadirkan oleh John F Haught dalam buku yang berjudul asli
Science and Religion: From Conflik and Conversation ini.
Dengan menampilkan
tipologi yang dipetakan dengan jelas, penulis -Guru Besar Teologi pada
Universitas Georgetown, AS-ini, selain telah menyajikan perdebatan
seru, juga telah memajang sebuah kaca spektrum luas akan hubungan
sains-agama, mulai dari sikap yang menunjukkan konflik antar keduanya hingga
saling melebur dalam bentuk peneguhan.
Empat Kubu mungkin
saja tidaklah salah, jika hubungan sains dan agama itu telah menorehkan dilema.
Itu bisa dimaklumi sebab dari perbedaan pandangan itu tak saja telah mewarnai
perdebatan dengan berbagai argumen yang kuat, tapi telah membangun tipologi
yang kemudian mengerucut menjadi sebuah upaya dialog.
B.
Fokus Masalah
Menurut perspektif
Haught, dalam perdebatan antara sains dan agama terbangun empat tipologi:
konflik, kontras, kontak dan konfirmasi.
Bagi kubu konflik,
hubungan antara sains dan agama selain berlawanan, juga dianggap bertolak
belakang dan tak bisa dipertemukan. Sebab antara agama dan sains, dilihat
saling bertarung untuk membenarkan dirinya sendiri. Tidak hanya itu, keduanya
juga saling menyudutkan dan karena itu tak mungkin bisa diselaraskan.
Kubu kontras memandang agama dan sains
masing-masing memiliki wilayah kerja sendiri-sendiri yang otonom, terpisah, dan
absah. meskipun tidak perlu bertemu, keduanya harus saling menghormati
integritas masing-masing.
Dengan dalih menghindari pertemuan,
kubu kontak menyarankan agama saling tertukar pandangan dengan sains untuk memperkaya perspektif tentang
kenyataan. Akan tetapi, keduanya tidak mesti bermufakat, apalagi meleburkan
diri.
Bergerak lebih dari itu, kubu
konfirmasi menyarankan agama dan sains agar saling mengukuhkan, terutama dalam
berbagai pandangan tentang anggapan-anggapan dasar tentang realitas, tanpa
harus kehilangan identitas masing-masing.
Dalam pembahasan mengenai Perjumpaan
Sains dan Agama dari Konflik ke Dialog (Science and Religion:
From Conflik and Conversation) ini,
Haught mengangkat Sembilan permasalahan yaitu: 1) Apakah Agama
bertentangan dengan sains?, 2) Apakah sains menyingkirkan Tuhan yang personal?,
3) Apakah evolusi menyingkirkan keberadaan Tuhan?, 4) Dapatkah hidup direduksi ke dalam ilmu kimia?, 5) Apakah alam
semesta diciptakan?, 6) Apakah kita benar-benar produk alam semesta ini?, 7)
Mengapa ada kompleksitas dalam alam?, 8) Apakah alam semesta mempunyai tujuan?,
9) Apakah agama bertanggung jawab atas krisis ekologi?.
Haught menampilkan masing-masing kubu
untuk memaparkan argumentasinya dan kritiknya kepada kubu-kubu lain. Dengan
cara ini, dia mengajak pembaca untuk melihat lanskap persoalan hubungan
sains-agama dalam dimensi-dimensi kemanusiaan yang kaya dan menyeluruh.
PEMBAHASAN
A. Pengertian Sains dan Agama
Sulit bagi kita menentukan definisi ilmu, tergantung
dari perspektif mana kita memandangnya Salah
satu definisi ilmu yang untuk selanjutnya juga disebut sebagai ilmu
pengetahuan adalah A systematized knowledge detived from observation, study and
exrerimentation carried in order to determine the principle of being studied. Batasan di atas menggambarkan bahwa sains
bukan
sekedar pengetahuan, namun sains
memiliki sistematika tertentu yang menjadi syarat absahnya sebuah
pengetahuan (knowledge) yang
diklaim sebagai ilmu pengetahuan (science).
Ada sejumlah penafsiran tentang ilmu pengetahuan,antara lain, istilah ilmu
pengetahuan itu dapat disamakan pengertiannya dengan istilah Belanda weten schap yang artinya mencakup semua ilmu pengetahuan
dalam arti seluas-luasnya. Bila dikenal
dengan science, memberi arti kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematik, yang
bahan-bahannya terdapat di luar diri
manusia yang berupa obyek nyata dan bersifat empiris. Adapun istilah ilmu
pengetahuan yang menunjuk pada suatu
kumpulan pengetahuan yang sesungguhnya
sudah siap dipakai (applied science)
biasa disebut dicipline.
Sedangkan agama menurut Haught adalah keyakinan
teistik akan Tuhan “personal” yang dihubungkan dengan apa yang disebut sebagai
keyakinan-keyakinan, mencakup refleksi tentang keyakinan religius yang umumnya dikenal sebagai “teologi”. Keduanya
bertemu pada titik dimana eksistensi kreatifitas Tuhan tergambar dalam dua
dimensi transenden dan empiris sejauh kuasa akal (sains) dan keyakinan (agama)
manusia menemukannya.
B. Kegunaan Sains
Ilmu pengetahuan yang isinya adalah teori ilmiah
yang diuji kebenarannya secara empirikal memberi makna teori sebagai pendapat
yang beralasan. Alasan itu dapat berupa
argumen logis, ini teori filsafat; berupa argumen perasaan atau
keyakinan dan kadang-kadang empiris, ini teori dalam pengetahuan mistik; berupa argumen
logis-empiris, ini teori sains
.
Sekurang-kurangnya ada tiga kegunaan teori
sain,sebagai alat eksplanasi, sebagai alat peramal dan sebagai alat pengontrol.
Sebagai alat eksplanasi sain merupakan sistem
eksplanasi yang paling dapat diandalkan dibandingkan dengan sistem lainnya
dalam memahami masa lampau, sekarang, serta mengubah masa depan. Sebagai contoh Indonesia berduka, 26 Desember 2004. Gelombang Tsunami
menyapu habis wilayah Aceh dan daerah lain dalam maupun luar negeri. Korban terbesar di
wilayah Aceh yang menghilangkan lebih dari tujuh ratus ribu jiwa yang
terdeteksi saja,disamping milyaran rupiah dari sisi finansial. Hal ini terjadi
karena tidak adanya eksplanasi akan hal ini. Sama-sama ditimpa Tsunami, tapi Thailand bisa
mengurangi jumlah korban dengan mengantisipasi musibah karena sebagian
penduduknya telah dikenalkan dengan eksplanasinya.
Penjelasan mengenai pengetahuan Teori Lempeng
(untuk sementara dinggap teori paling benar, karena belum ada teori yang mematahkan)
mengeksplanasikan bahwa lempeng-lempeng bumi dalam laut baik yang ada di pusat
Utara maupun Selatan mengalami pergeseran sekian centimeter dalam setiap tahun
dan dalam sekian tahun kemudian akan patah dan menyebabkan gempa dalam laut dan
Tsunami dengan gejala-gejala tertentu. Gambaran gejala yang umum adalah
terjadinya air surut, gelombang laut menjorok ke dalam hingga ratusan meter
(kedalaman surutnya air mejelaskan besarnya gelombang), juga terjadinya
gempa dengan kekuatan lebih dari 5,9
skala richter.
Tatkala membuat
eksplanasi, biasanya ilmuwan telah mengetahui juga faktor penyebab terjadinya
gejala itu. Dengan mengutak-atik faktor penyebab itu,ilmuwan dapat membuat
ramalan.Dalam bahaskaum ilmuwan ramalan itu disebut prediksi, untuk
membedakannya dari ramalan dukun.
Dalam fungsinya ilme sebagai prediksi, setelah
mengetahui eksplanasi, seperti kasus Tsunami tadi,maka untuk selanjutnya
bisa diprediksi akan terjadinya peristiwa yang sama, kapan, di wilayah mana,
dan sebagainya. Eksplanasi
merupakan bahan untuk membuat ramalan dan kontrol. Ilmuwan selain mampu membuat
ramalan berdasarkan eksplanasi gejala juga dapat membuat kontrol.Perbedaan
prediksi dan kontrol adalah prediksi bersifat pasif; tatkala ada kondisi
tertentu, maka kita dapat membuat prediksi, misalnya akan terjadi ini, itu,
begini atau begitu.Sedangkan kontrol bersifat aktif; terhadap suatu keadaan, kita
membuat tindakan-tindakan atau menghindari tindakan agar terjadi ini dan itu.
Dalam contoh kasus Tsunami,
sebagai kontrol kini telah ditemukan SIG, dengan penginderaan jauh yang
multitemporal dan multispektral dapat digunakan untuk menginventarisasi dan
memantau bencana alam seperti gunung meletus,gempa bumi, kebakaran hutan,
serangan hama dan lain-lain.
C.
Mengenal John F Haught
John F. Haught adalah seorang teolog
Katolik Roma dan Senior Research Fellow di Pusat Theological Woodstock di
Georgetown University. Wilayah keahliannya adalah teologi sistematis, dengan
minat khusus pada isu-isu ilmu pengetahuan, kosmologi, ekologi, dan evolusi
rekonsiliasi dan agama. Haught bersaksi terhadap pengajaran perancangan cerdas
di sekolah karena sifat agama dalam kasus Kitzmiller v. Dover Area
School District Kitzmiller.
Haught mendirikan Pusat Georgetown untuk Studi Sains
dan Agama. Ia adalah ketua departemen teologi
Georgetown antara 1990 dan 1995. Sebuah penciptaan
evolusi, Haught pandangan
ilmu pengetahuan dan agama sebagai
dua tingkat yang berbeda dan tidak bersaing penjelasan , menegaskan "Ilmu
dan agama tidak dapat
secara logis berdiri dalam hubungan kompetitif satu sama lain.
Haught lulus dari St Mary Seminary
dan Universitas di
Baltimore dan kemudian menerima
gelar PhD dalam teologi dari
Universitas Katolik Amerika pada tahun
1970.
Haught juga pemenang Award 2002 Garrigan Owen
dalam Sains dan Agama dan 2004 Penghargaan
Sophia Excellence Teologi. Selain itu, pada tahun 2009, sebagai pengakuan atas karyanya pada teologi dan sains, Haught dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa oleh
University of Leuven.
Dia adalah penulis beberapa buku tentang kontroversi penciptaan-evolusi, termasuk
Deeper Dari Darwin:
The Prospek Agama
di Era Evolution, Allah Setelah Darwin:
A Theology of
Evolution, dan Responses
to 101 Pertanyaan pada Tuhan dan Evolusi.
D.
Buku karya-karya Haught
Di
antara karya-karya Haught
adalah :
1)
The
Cosmic Adventure: Science, Religion and the Quest for Purpose, 1984,
Paulist Press,
ISBN 0-8091-2599-4.
5)
Science
and Religion: In Search of Cosmic Purpose, 2000, Georgetown University
Press 2001 reprint:
ISBN
0-87840-865-7.
6)
God
After Darwin: A Theology of Evolution, 2000, Westview Press 2001 reprint:
ISBN
0-8133-3878-6.
8)
Responses
to 101 Questions on God and Evolution, 2001, Paulist Press,
ISBN
0-8091-3989-8.
11)
The
Promise of Nature: Ecology and Cosmic Purpose, 2004, Wipf & Stock
Publishers,
ISBN
1-59244-945-X.
12)
Is
Nature Enough?: Meaning and Truth in the Age of Science, May 2006,
Cambridge University Press,
ISBN
0-521-60993-3.
13)
God
and the New Atheism: A Critical Response to Dawkins, Harris, and Hitchens,
December 2007, Westminster John Knox Press,
ISBN
978-0-664-23304-4.
E.
Tipologi Perjumpaan Sains dan Agama
Untuk menilai bagaimana pola berfikir John F. Haught
dalam bukunya ini, maka terlebih dahulu perlu dijelaskan terlebih dahulu
tentang prinsip-prinsip dari empat pendekatan yang digunakannya yaitu:
1.
Konflik
Kelompok yang mengatakan bahwa agama sama sekali
bertentangan dengan sains atau bahwa sains membatalkan agama. Dengan kata lain
kalau ada agama tidak boleh ada sains, kalau ada sains tidak boleh ada agama.
2.
Kontras
Kelompok yang menandaskan bahwa agama dan sains sangat
berbeda satu sama lain sehingga secara logis tidak akan mungkin ada konflik di
antar keduanya.
3.
Kontak
Kelompok yang mengatakan bahwa walaupun agama dan
sains jelas berbeda, karena sains selalu mempunyai implikasi-implikasi bagi
agama, demikian juga sebaliknya. Sains dan agama niscaya berinteraksi satu sama
lain; karena itu agama dan teologi tidak boleh mengabaikan perkembangan-perkembangan
baru dalam sanis.
4.
Konfirmasi
Kelompok yang melihat bagaimana agama dapat berperan
positif dalam mendukung pertualangan ilmiah mencari penemuan. Ia mengupayakan
cara-cara yang dapat ditempuh agama, tanpa sama sekali memcampuri sains, untuk
dapat meretas jalan bagi beberapa ide, dan bahkan merestui penyelidikan ilmiah
akan kebenaran.
Proses penganalisaan pemikiran tentang Perjumpaan
Sains dan Agama ini, penyusun mengangkat tema yang pertama untuk membatasi
cakupannya sehingga akan kelihatan pola secara mandiri dan dapat diterapkan
untuk tema-tema berikutnya.
Beberapa pemikiran yang kemudian
dicatatkan dalam sebuah kolom dengan maksud untuk memudahkan menganalisa
kedudukan dan pola fikir dari empat pendekatan di atas.
|
NO
|
PENDEKATAN
|
TOKOH
|
PEMIKIRAN/KEJADIAN
|
|
|
Konflik
|
Galileo
|
Penyiksaan oleh gereja pada
abad ke-17
|
|
Darwin
|
Teologi yang antiteori
evolusi Darwin abad ke-19 dan 20
|
|
Kaum skeptis ilmiah (Karl
Popper)
|
Kendala
epistemology agama dan teologi terhadap kaum skeptik ilmiah; kaum skeptik
ilmiah bersedia mengganti teori dengan pembuktian ilmiah sementara agama dan
teologi tidak.
Karl
Popper mengatakan bahwa sains sejati harus sungguh2 berupaya pengajuakan
bukti yang bisa menunjukkan bahwa pemikirannya keliru.
|
|
Kaum literalis biblikal
|
Orang
yang berfikiran bahwa kata-kata kitab suci adalah benar secara harfiah,
seringkali melihat konflik antara keyakinan mereka dengan teori ilmiah.
|
|
Kaum Kristen di Amerika
|
Alkitab
mengajarkan sains yang benar sementara sains di dunia harus ditolak jika
tidak cocok dengan apa yang ditulis di dalam Alkitab.
|
|
Kritikus2 (Bryan Appleyard)
|
Secara
sepiritual, sains bersifat merusak yaitu dengan mengikis habis otoritas-otoritas
dan tradisi-tradisi kuno. Akibatnya pengalaman modern kehilangan makna
tradisional.
|
|
|
|
Ilmuan dan Teolog
|
Masing-masing
adalah absah (valid) meskipun hanya dalam batas ruang lingkup
penyelidikan mereka sendiri yang sudah
jelas.
Mencegahnya jangan sampai melanggar tapal batas wilayah yang lain, di sana
tidak akan pernah ada "masalah" yang sesungguhnya antara sains dan
agama.
|
|
Kegagalan gereja untuk mengakui ranah-ranah sains
dan agama yang terpisah telah menyebabkan para penguasa gereja itu mengutuk
pemikiran-pemikiran baru Galileo, seakan-akan pemikiran itu merupakan
pelanggaran ke dalam tapal batas ranah mereka sendiri.
|
|
Kristen
konservatif
|
Mengatakan bahwa karena Kitab Suci itu ialah
inspirasi Ilahi dan tidak mengandung kesalahan, dia memberi kita informasi
ilmiah yang paling dapat dipercaya tentang awal mula alam semesta dan
kehidupan.
|
|
|
|
Aliran
Konkordisme
|
Menurut penafsiran mereka, bagaimanapun, agama
harus dibuat sedemikian rupa sehingga tampak ilmiah kalau agama itu mau
dihargai secara intelektual dewasa ini.
|
|
|
Dalam bukunya Genesis and the Big Bang,
mengatakan bahwa Teori Relativitas menantang gagasan rasional umum mengenai
keserentakan absolut (absolute simultaneity) dan dengan teori tersebut, memungkinkan
kita untuk memahami secara harfiah rangkaian penciptaan selama enam hari,
sebagaimana dilukiskan dalam Kitab suci.
|
|
Penganut
Kontras
|
Pendekatan kontras membantu mengingatkan kita
bahwa yang menjadi musuh agama itu boleh jadi bukanlah sains itu sendiri,
melainkan saintisme. Mereka mengatakan bahwa peleburan terselubung antara
sains dan saintisme itulah yang mendasari oposisi yang dilakukan oleh para
ilmuwan modern terhadap agama.
|
|
|
|
|
Pendekatan
kontras merupakan perkiraan pertama yang dapat membantu, tetapi pendekatan
kontras itu membiarkan segala sesuatu berada pada jalan buntu yang bisa
membuat orang putus asa.
|
|
Thomas
Kuhn
|
Buku-buku teks ilmiah, cenderung
"menyembunyikan" atau menutupi pertikaian-pertikaian dan
konflik-konflik yang mendasari evolusi pemahaman ilmiah. Buku-buku teks itu
memberi kesan kepada para pengkaji bahwa metode ilmiah merupakan jalan lurus
dan langsung menuju kebenaran, padahal sejarah ilmu pengetahuan yang
sebenarnya menunjukkan bahwa pertumbuhan dalam pengetahuan hampir-hampir
tidak selurus dan semulus seperti itu.
|
|
|
|
Pemikir
modern dan posmodern
|
Teori-teori ilmiah dan metafora-metafora
keagamaan, dalam persepakatan epistemologis ini, bukan hanya sekadar ramuan
imajinasi belaka, mereka justru mengemban suatu relasi yang selalu bersifat
tentatif dengan satu dunia nyata dan landasannya yang terakhir. Dunia di
seberang daya-daya representasi kita ini hanya selalu bisa ditangkap secara
tidak utuh, dan kehadirannya terus-menerus "menguji"
hipotesis-hipotesis kita, dengan mengundang kita terus-menerus memperdalam
pemahaman kita, baik dalam bidang iimu pengetahuan maupun dalam bidang agama,
jadi mereka saling berbagi secara timbal-balik dalam keterbukaan
kritis terhadap apa yang nyata. Hal inilah yang menjadi landasan bagi adanya
"kontak" sejati antara sains dan agama.
|
|
|
|
John F. Haught
|
Agama tidak boieh dipakai untuk memperkuat cara-cara
berbahaya yang di dalamnya pengetahuan ilmiah sering kali diterapkan dalam
kenyataan. Usul saya hanyalah bahwa agama pada dasarnya memperkuat kerinduan
sederhana akan pengetahuan. Agama memperkuat dorongan yang bisa memunculkan
sains.
|
|
Kritikus
|
Banyak kritikus bahkan berpikir bahwa sains itu
bertanggung jawab atas sebagian besar penyakit yang diderita dunia modern
ini. Menurut mereka, kalau bukan karena sains, mungkin kita tidak akan
mengalami ancaman nuklir, tidak akan mengalami polusi global udara, tanah,
dan air. Kita dan planet kita ini mungkin saja bernasib jauh lebih baik kalau
tanpa sains. Mereka mengatakan, sainslah yang merupakan akar-akar dari
serangan atas alam, suatu aksi penumpasan yang terkendali. ini adalah upaya
Faustian untuk menerobos semua misteri kosmos sehingga kita dapat menjadi
tuan atasnya.
|
F.
Perjumpaan Sains dan Agama dalam
Perspektif Islam
a.
Nilai Islam
Al-Qur’ân mengajak umat Islam untuk melakukan
pengembangan ilmu pengetahuan, memerdekakan akal dari belenggu keraguan,
merdeka dalam berpikir (menggunakan akal), dan mendorong untuk melakukan
pengamatan terhadap fenomena (gejala) alam. Al-Qur’ân mendorong umat manusia
untuk mengamati ayat-ayat kawniyyah di samping ayat-ayat Qur’âniyyah.
Oleh karenanya banyak kita temukan di dalam Al-Qur’ân al-Karîm, di mana redaksi
ayat-ayatnya diakhiri dengan; ( قد فصلنا الآيات لقوم يعلمون) (
لقوم يفقهون ), (لقوم يتفكرون ).
Hakekat
Mempelajari Sains Tuhan mempersilahkan manusia untuk memikirkan alam semesta
berikut isinya dan segala konteksnya, kecuali jangan pernah memikirkan Dzat
Tuhan, karena alam pikiran manusia tidak akan pernah mencapainya. Hal ini
adalah sebagaimana tercantum dalam sebuah hadis Nabi :“Pikirkanlah ciptaan
Allah dan jangan memikirkan Dzat Allah, sebab kamu tak akan mampu mencapaiNya”.
Bahkan dalam QS Ar Rahmaan Ayat 33, Tuhan berfirman :
Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu
sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu
tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.
Pada prinsipnya
apa yang disabdakan Nabi SAW dan yang difirmankan Tuhan ini
memberikan kesempatan kepada manusia untuk melakukan pemikiran dan eksplorasi
terhadap alam semesta. Upaya penaklukan ruang angkasa harus dilihat sebagai
suatu ibadah manusia yang ditujukan selain untuk memahami rahasia alam, juga
demi masa depan kehidupan manusia. Pencarian ilmu bagi manusia agamis
adalah kewajiban sebagai bentuk eksistensi keberadaannya di alam semesta ini.
Ilmu pengetahuan dapat memperluas cakrawala dan memperkaya bahan pertimbangan
dalam segala sikap dan tindakan. Keluasan wawasan, pandangan serta kekayaan
informasi akan membuat seseorang lebih cenderung kepada obyektivitas, kebenaran dan realita. Ilmu
yang benar dapat dijadikan sarana untuk mendekatkan kebenaran dalam
berbagai bentuk. Orang yang berilmu melebihi dari orang yang banyak ibadah,
ilmu manfaatnya tidak terbatas, bukan hanya bagi pemiliknya, tetapi ia
membias ke orang lain yang mendengarkannya atau yang membaca karya tulisnya.
Sementara itu, ibadah manfaatnya terbatas hanya pada si pelakunya. Ilmu dan
pengaruhnya tetap abadi dan lestari selama masih ada orang yang
memanfaatkannya, meskipun sudah beberapa ribu tahun. Tetapi pahala yang
diberikan pada peribadahan seseorang, akan segera berakhir dengan berakhirnya
pelaksanaan dan kegiatan ibadah tersebut.
Pernyataan dari Bryan Appleyard bahwa “sains itu bertanggung jawab atas sebagian
besar penyakit yang diderita dunia modern ini. Menurut mereka, kalau bukan
karena sains, mungkin kita tidak akan mengalami ancaman nuklir, tidak akan
mengalami polusi global udara, tanah, dan air. Kita dan planet kita ini mungkin
saja bernasib jauh lebih baik kalau tanpa sains. Mereka mengatakan, sainslah
yang merupakan akar-akar dari serangan atas alam, suatu aksi penumpasan yang
terkendali. ini adalah upaya Faustian untuk menerobos semua misteri kosmos
sehingga kita dapat menjadi tuan atasnya.” Menunjukkan
bahwa bagaimana dalam Islam dijelaskan bahwa kerusakan di dunia dikarenakan
tangan manusia.
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan
Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian
dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS
Al-Rum:41)
b.
Penerapan Nilai Islam
Para Ulama sejak dahulu selalu berusaha mendalami hukum hukum yang
terkandung dalam Al-Quran dan As-Sunah yang kadang-kadang di antara mereka
terdapat perbedaan paham dan pendapat dalam menetapkan hukum yang mereka
istimbatkan dari Al-Quran dan As-Sunah tersebut. Hal ini dikarenakan di antara
ayat Al-Quran ataupun Hadits Nabi itu ada yang bersifat dzanni, sehingga
memerlukan pemikiran dan usaha yang sungguh-sungguh untuk dapat memahami
nash-nash yang demikian.
Usaha dan pemikiran yang sungguh-sungguh dari para Ulama untuk menetapkan
hukum Islam inilah yang dikenal dengan sebutan “Ijtihad”, sedangkan para
Ulama yang melakukannya disebut “Mujtahid”. Berusaha mendalami hukum
Islam memang merupakan sesuatu keharusan dalam ajaran Islam, dan orang yang
melakukannya sudah barang tentu memperoleh derajat yang lebih tinggi dibanding
kelompok lainnya.
Cara berpikir bayani, burhani dan irfani menjadi kerangka metodologi
pemikiran keislaman, dengan rincian sebagai berikut: 1) Pendekatan bayani
merupakan studi filosofis terhadap sistem bangunan pengetahuan yang
menempatkan teks (wahyu) sebagai suatu kebenaran mutlak; 2)
Pendekatan burhani atau pendekatan rasional argumentatif adalah pendekatan yang
mendasarkan diri pada kekuatan rasio yang dilakukan melalui dalil-dalil logika;
3) Pendekatan emosional-spiritual (al-irfan) adalah pendekatan pemahaman yang
bertumpu pada pengalaman batini, zauq, qalb, wijdan, basirah dan intuisi.
Pada abad ke 8 hingga abad ke 12 Masehi, umat Islam berada dalam zaman
keemasan. Zaman dimana ilmu pengetahuan dan peradaban Islam berkembang pesat mencapai
puncaknya. Pada saat itu umat Islam menjadi pemimpin dunia karena perhatiannya
yang sangat besar tidak hanya dari sisi keilmuan agama, tetapi juga ilmu-ilmu
umum dan ilmu-ilmu murni. Tokoh-tokoh Islam pada masa itu antara lain: 1) Alkindi
(185H/807M– 260H/873M). 2) AlFarabi (267H/890M). 3) Ibnu Sina (370H/980M–428H/1037M)
dan 4) Al-Ghazali (450H/1058M – 505H/1111M).
c.
Contoh
Penafsiran Al-Qur’an Berbasis Sains Modern
1. Rahasia
Besi (Fisika)
Surat al-Hadid (57) ayat 25:
...
وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيْدَ فِيْهِ بَأْسٌ شَدِيْدٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِ .... (الحديد
: 25)
Artinya: “…dan Kami turunkan besi yang padanya
terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia…”
Penjelasan (penafsiran) Ilmiah:
Kata “anzalnâ ( أنزلنا
)” yang berarti “Kami turunkan” khusus digunakan untuk besi dalam ayat ini,
dapat diartikan secara kiasan untuk menjelaskan bahwa besi diciptakan untuk
memberi manfaat bagi manusia. Tapi ketika kita mempertimbangkan makna harfiah
kata ini, yakni “secara bendawi diturunkan dari langit”, kita akan menyadari
bahwa ayat ini memiliki kejaiban ilmiah
yang sangat penting. Ini dikarenakan penemuan astronomi modern telah mengungkap
bahwa logam besi ditemukan di bumi kita berasal dari bintang-bintang raksasa di
angkasa luar.
Logam berat di alam semesta dibuat dan
dihasilkan dalam inti bintang-bintang raksasa. Akan tetapi sistem tata surya
kita tidak memiliki struktur yang cocok untuk menghasilkan besi secara mandiri.
Besi hanya dapat dibuat dan dihasilkan dalam bintang-bintang yang jauh lebih
besar dari matahari, yang suhunya mencapai beberapa ratus juta derajat. Ketika
jumlah besi sudah melampaui batas tertentu dalam suatu bintang, bintang
tersebut tidak mampu lagi menanggungnya, dan akhirnya meledak melalui peristiwa
yang disebut “nova” atau “supernova”. Akibat dari ledakan ini, meteor-meteor
yang mengandung besi bertaburan di seluruh penjuru alam semesta dan mereka
bergerak melalui ruang hampa hingga mengalami tarikan oleh gaya gravitasi benda
angkasa. Semua ini menunjukkan bahwa logam besi tidak terbentuk di bumi
melainkan kiriman dari bintang-bintang yang meledak di ruang angkasa melalui
meteor-meteor dan “diturunkan ke bumi”, persis seperti dinyatakan dalam ayat
tersebut: Jelaslah bahwa fakta ini tidak dapat diketahui secara ilmiah pada
abad ke-7 ketika Al-Qur’ân diturunkan.
Pada penjelasan kitab-kitab tafsir yang ada pada umumnya, kalimat وأنزلنا
diartikan atau diterjemahkan dengan; “dan Kami ciptakan” bukan “dan Kami
turunkan”.
2. Gempa
Bumi (Geologi)
Surat al-Zalzalah (99) ayat 1 - 4:
اِذَا زُلْزِلَتِ اْلأَرْضُ زِلْزَالَهَا
* وَأَخْرَجَتِ اْلأَرْضُ اَثْقَالَهَا * وَقَالَ اْلإِنْسَانُ مَالَهَا *
يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا * (الزلزال
: 1- 4)
Artinya: “Apabila bumi digoncangkan dengan
goncangan (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban beratnya. Dan
manusia bertanya: ‘Mengapa bumi (jadi begini)?’. Pada hari itu bumi
menceritakan beritanya.”
Telaah
Ilmiah:
Lempeng-lempeng litosfer bergerak dan saling
berinteraksi satu sama lain. Pada tempat-tempat saling bertemu, pertemuan
lempengan ini menimbulkan gempa bumi. Sebagai contoh adalah Indonesia yang
merupakan tempat pertemuan tiga lempeng: Eurasia, Pasifik dan Indo-Australia.
Bila dua lempeng bertemu, maka terjadi tekanan (beban) yang terus menerus, dan
bila lempengan tidak tahan lagi menahan tekanan (beban), maka lepaslah beban
yang telah terkumpul ratusan tahun itu, dan dikeluarkan dalam bentuk gempa
bumi. Apabila bumi “digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat).” Dan bumi
telah “mengeluarkan beban-beban beratnya.” Dan manusia bertanya: “Mengapa bumi
(jadi begini)?”. Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” Beban berat
yang dikeluarkan dalam bentuk gempa bumi merupakan suatu proses geologi yang
berjalan bertahun-tahun. Begitu seterusnya, setiap selesai beban dilepaskan,
kembali proses pengumpulan beban terjadi. Proses geologi atau ‘berita geologi’
ini dapat direkam baik secara alami maupun dengan menggunakan peralatan
geofisika ataupun geodesi. Sebagai contoh adalah gempa-gempa yang beberapa
puluh atau ratus tahun yang lalu, peristiwa pelepasan beban direkam dengan baik
oleh terumbu karang yang berada dekat sumber gempa. Pada masa modern, pelepasan
energi ini terekam oleh peralatan geodesi yang disebut GPS (Global Position
System).
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dalam
penulisan tentang pertemuan sains dan agama ini, John F Haught setidaknya
mempunyai sikap: 1) Haught menerima perspektif evolusioner bahwa teologi
secara mutlak direvisi berdasarkan perspektif konflik, kontras, kontak dan
konfirmasi, 2) Haught percaya akan teologi dinamis, dan karena itu
menafikan pengetahuan dan kekuasaan Tuhan yang bersifat mutlak. Menurutnya,
Tuhan rela membagikan kekuasaan kepada alam dengan memberikannya kemampuan
untuk menata diri sendiri, 3) Dalam pandangannya, alih-alih
mempertahankan situasi yang ada sekarang. Tuhan mempertaruhkan keterbatasan
pengetahuan-Nya tentang masa depan, dan karena itulah evolusi berkembang,
4) Haught percaya bahwa tujuan alam itu tidak dapat dicari di wilayah sains
karena ia merupakan rahasia dan harus tetap rahasia selamanya yang bahkan tidak
akan tersingkapkan oleh agama.
Meskipun
sampai pada pendekatan konfirmasi, sesungguhnya saya melihat bahwa pandangan
Haught ini masih meletakkan bahwa agama dan sains tetap pada tempatnya
masing-masing. Mereka berasal dari tempat yang berbeda. Hal ini tampaknya
berbeda dengan konsep agama Islam bahwa semua potensi yang dapat diketahui oleh
manusia bersumber dari satu yaitu wahyu, hanya saja dalam konteksnya
masing-masing terjadi pembagian ada yang tergolong qauliyah yaitu berupa nilai-nilai
hidup dan kehidupan yang didasari oleh kepercayaan/keyakinan/apriori. Sementara
sains tergolong kauniyah (empiris) yangmana pengenalan tentang hal ini
dibuktikan dengan perhitungan ilmiah yang melahirkan nilai-nilai yang dibuat
oleh manusia.
Pertanyaannya
adalah: Bagaimana manusia dapat mengambil pelajaran bahwa bukti-bukti yang
ditemukan melalui sains adalah pembuktian dari nilai-nilai agama yang tidak
secara gamblang dijabarkan?. Sekali lagi hal ini tergantung dari kelompok
yang memberikan pandangan terhadap agama. Sementara agama yang berkembang dan
terkelompok kepada beberapa agama, masing-masing yakin akan kebenarannya. Yang
menjadi permasalahan adalah jika nilai-nilai agama ternyata bertentangan dengan
fakta empiris yang dirasakan oleh manusia.
B.
Saran-saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka Penulis dapat
mengemukakan beberapa saran antara lain:
1.
Bagi Haught. Selain empat tipologi yang
dikemukakan Haught, yaitu: konflik, kontras, kontak, konfirmasi. Alangkah
baiknya mengenal satu tipologi yang berasal dari ilmu ushul fikih yaitu “al-Jam’u wa al-Taufiq (الجمع و
التوفيق). Adalah upaya untuk
menggabungkan kesamaan-kesamaan ide, argumentasi maupun penafsiran antara sains dan agama selanjutnya menemukan
kesepakatan antara keduanya.
2.
Bagi pembaca. Agar senantiasa konsisten memadukan sains dan agama sebagai dua entitas
yang sama-sama telah mewarnai sejarah kehidupan umat manusia. Sebab, keduanya
telah berperan penting dalam membangun peradaban. Dengan lahirnya agama, tidak
saja telah menjadikan umat manusia memiliki iman, tapi hal lain yang tidak bisa
dipandang sebelah mata adalah terbangunnya manusia yang beretika, bermoral dan
beradab yang menjadi pandangan hidup bagi manusia dalam menjalani hidup di
dunia.
3. Bagi
generasi intelektual muslim. Agar
mewujudkan harmonisasi antara sains dan agama. Walaupun sejarah mencatat,
bagaimana klaim sepihak lembaga agama telah menjadikan Galileo (1564-1642) jadi
korban setelah ia dengan lantang bersuara bahwa matahari adalah pusat alam
semesta (sementara dalam kitab suci kristen justru sebaliknya), dan sikap
“sentimen” agama dalam melihat teori evolusi Darwin. Meski kemudian, dari
sengketa itu lambat laun bisa diterima oleh kaum agamawan, tapi berkat penemuan
terbaru sains—setidaknya—telah menunjukkan pergeseran akan hubungan yang
sebenarnya tidak melulu saling berseteru.
Referensi
Aslinda; Syafyahya, Leni. 2007. Pengantar Sosiolinguistik.
Bandung: Refika Aditama.
Assegaf, Abdur Rahman. 2007. Pendidikan Islam Di Indonesia, Yogyakarta:
Suka Press.
Gerald schroeder, Genesis and the Big
Bang: The Discovery of Harmony Between Modern Science and the Bible, New
York: Bantam Books, 1990
Hidayat, Asep Ahmad. 2006. Filsafat Bahasa, Mengungkap Hakikat
Bahasa, Makna dan Tanda. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
John f. Haught, “Perjumpaan Sains
dan Agama dari Konflik ke Dialog”, (Mizan, Bandung: 2004 (diterjemahkan
dari Science and Religion : From Konflict to Conversation)
Ma’arif , Syamsul, 2007. Revitalisasi Pendidikan Islam,
Yogyakarta:Graha Ilmu.
Machfudz Ibawi, 1986 . “Modus Dialog di Perguruan Tinggi Islam”,
dalam Amin Husni et.al., Citra Kampus Religius Urgensi Dialog Konsep
Teoritik Empirik Dengan Konsep Normatif Agama, Surabaya: PT. Bina Ilmu.
Moh. Shofan, 2004. “Pendidikan Berparadigma Profetik; Upaya
Konstruktif Membongkar Dikotomi Sistem Pendidikan Islam” . Jogjakarta:UGM
Press Jawa Timur.
Prof. Dr. H. Haidar Putra Daulay,
MA, Pemberdayaan Pendidikan Islam di Indonesia, Rineka Cipta, Jakarta:
2009
Prof. Dr. H. Jalaluddin, Teologi
Pendidikan, RajaGrafindo Persada,Jakarta : 2003
Prof. Dr. H. Muhaimin MA dalam buku yang berjudul Paradigma
Pendidikan Islam : Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama di Sekolah, Remaja
Rosdakarya, Bandung: 2001.
Qomar, Mujamil,. 2005. Epistemologi Pendidikan Islam Dari Metode
Rasional Hingga Metode Kritik
Jakarta: Erlangga.
Ridla, Muhammad Jawad, Al-Fikr Al-Tarbawiy Al-Islamiy; Muqoddimah
fi Usulihi Al-Ijtimaiyyah wa Al-Aqlaniyah, t.k.: Dar Al-Fikr Al-Arabiy,
t.t.
Thomas, Linda ; Wareing, Shan. 2007. Bahasa, Masyarakat &
Kekuasaan. Terj. Sunoto et. al., Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Gerald schroeder, Genesis and the Big Bang: The Discovery of Harmony Between
Modern Science and the Bible, New York: Bantam Books, 1990