Melejitkan Kemampuan Menulis Bahasa
Inggris
Melalui Buku Harian
Oleh: Yayuk Kurniawati
Guru MAN BATU
Salah satu kunci sukses di era globalisasi ini adalah menguasai
bahasa asing. Dengan menguasai bahasa asing rasa percaya diri seseorang akan
meningkat. Di antara bahasa asing yang
menduduki urutan pertama adalah bahasa Inggris. Maka dari itu perlu bagi semua
siswa di negeri ini baik menengah pertama atau
menengah atas untuk menguasai bahasa Inggris. Dalam menguasai bahasa
Inggris ada empat keterampilan yang harus dimiliki oleh siswa yaitu mendengar,
berbicara, membaca dan menulis. Diantara empat keterampilan tersebut, menulis
merupakan keterampilan yang paling sulit
untuk dikuasai oleh siswa yaitu kemampuan dalam
menyusun kalimat bahasa Inggris.
Mengapa sulit? Hal ini disebabkan karena mereka sangat jarang
melakukan kegiatan tersebut baik di rumah ataupun di sekolah. Di tambah lagi
rendahnya motivasi siswa untuk berlatih menyusun kalimat dalam bahasa Inggris.
Ada dua hal yang menyebabkan rendahnya motivasi tersebut yaitu (1)
kurangnya penguasaan kosakata, (2) kurangnya pemahaman siswa dalam menyusun kalimat bahasa Inggris,
(3) banyaknya bentuk kalimat (tenses)
dalam bahasa Inggris yang harus dipahami.
Disamping itu alasan yang tidak kalah penting adalah bahwa
kecerdasan tiap manusia berbeda. Seperti yang dikemukakan oleh Howard
Gardner dalam Haviva (2013) bahwa ada
delapan kecerdasan dalam diri manusia yaitu (1) kecerdasan berbahasa yaitu
kecerdasan menggunakan kata secara efektif dalam tulisan maupun komunikasi (2)
kecerdasan dalam menghitung angka-angka (3) kecerdasan dalam mempersepsikan
dunia visual secara tepat dan akurat (4) kecerdasan yang berkaitan dengan
keterampilan (5) kecerdasan yang berhubungan dengan musik (6) kecerdasan yang
berkaitan dengan daya cerna terhadap lawan bicara (7) kecerdasan menganalisa
dan memetakan keberadaan diri sendiri (8) kecerdasan yang berhubungan dengan
alam sekitar. Dari kedelapan kecerdasan tersebut, kecerdasan yang mempengaruhi
kemampuan seseorang dalam berbahasa asing adalah tingkat kecerdasan yang
pertama yaitu kecerdasan berbahasa . Untuk memaksimalkan kecerdasan berbahasa
diperlukan pemaksimalan otak kanan. Seperti yang dikemukakan oleh Haviva (2013)
bahwa otak kanan bisa memfasilitasi seseorang untuk mengekspresikan kemampuan
yang dimiliki.
Bagaimana
caranya?
Berikut ini adalah jawaban dari pertanyaan di atas (1) belajar
secara menyenangkan (2) Membiasakan diri menulis kalimat sedikit tapi konsisten
dan istikomah. (3) Mengingat dan mengulang kembali. Mengapa harus menyenangkan?
Belajar yang menyenangkan tidak akan membuat otak lelah. Otak akan bisa bekerja
secara optimal dan hasilnya akan maksimal. Mengapa harus menulis sedikit ?
Mengapa tidak sekaligus belajar dalam jumlah banyak? Berdasarkan fakta, belajar sedikit demi
sedikit dan konsisten lebih efektif daripada sekaligus tapi dalam jumlah
banyak. Ditambah lagi Subachman (2014)
menyatakan bahwa dengan menulis pemahaman seseorang akan ilmu pengetahuan akan
menancap kuat ke dalam otaknya.
Mempertimbangkan penjelasan
tersebut maka untuk memahami
suatu ilmu bisa dilakukan dengan latihan menulis.Dan mengapa harus mengulang
kembali? Dengan mengulang kembali kemampuan seseorang akan semakin bertambah
dan meningkat.
Dari penjelasan diatas maka yang bisa dilakukan oleh seorang guru
dalam rangka mengoptimalkan kemampuan siswa dalam menyusun kalimat dalam bahasa
Inggris yang pertama adalah mempelajari kaidah yang melandasi pola ujaran dalam
hal ini tatabahasa termasuk di dalamnya tenses
atau perubahan bentuk kata kerja sesuai dengan keterangan waktunya. Langkah
kedua adalah menentukan bentuk perubahan kata kerja (tenses) mana dulu yang harus diberikan. Dalam menentukannya, ada
hal yang perlu dipertimbangkan yaitu karakter siswa itu sendiri. Dilihat dari
karakter siswa yang suka bercerita ketika bertemu teman sekelas maka bentuk
perubahan kata kerja(tenses) yang
pertama yang harus di kuasai siswa adalah simple
past tense dan yang kedua adalah Future
tense. Kenapa yang kedua harus future
tense ? Karena siswa pada umumnya suka berangan – angan akan kegiatan
kedepan yang akan dilakukan.
Yang berikutnya adalah guru
harus benar- benar mempertimbangkan media yang akan digunakan agar dapat
mengoptimalkan pembelajaran yang menyenangkan. Reiser dan Dick (1996) dalam Indriana
(2011) menyatakan ada tiga kriteria utama dalam menyeleksi media pengajaran
yaitu (1) kepraktisan (2) Layak atau tidaknya media bagi tingkat pengalaman
siswa (3) kelayakan media dalam strategi pengajaran. Mempertimbangkan
penjelasan sebelumnya maka media yang paling tepat adalah dengan memaksimalkan
penggunaan buku harian.
Mengapa harus buku harian?
Mengapa tidak menggunakan media yang lebih canggih saja seperti
menggunakan teknologi computer, dan video? Kan sekarang era serba gadget? Karena (1) buku harian itu
praktis dan mudah didapat bahkan dapat dibuat oleh siswa (2) buku harian bukanlah benda yang baru bagi
siswa (3) bahasa yang digunakan lebih luwes dan cenderung bahasa sehari – hari
(4) kalimat-kalimat yang tercatat pada buku harian pada umumnya adalah
peristiwa yang sudah terjadi dimana dalam bahasa Inggris kalimat tersebut masuk dalam kategori kalimat bentuk lampau
atau simple past tense (5) dan berupa kalimat – kalimat rencana
yang akan datang dalam bahasa Inggris kalimat tersebut masuk dalam kategori
kalimat simple future tense.
Dengan pengoptimalan buku
harian, siswa akan termotivasi dalam menyusun kalimat bahasa Inggris. Karena
selama ini kebanyakan latihan yang diberikan di kelas adalah menyusun
kalimat dalam bahasa- bahasa yang terlalu kaku dan tidak nyata terjadi.
Tetapi apabila mengoptimalkan buku harian maka bahasa yang digunakan akan
terasa lebih luwes dan hidup. Coba bandingkan dua contoh kalimat berikut ini;
Kalimat pertama ; John went to America last year , Kalimat
kedua Dear diary, Today, I felt very happy….. Kalimat yang pertama terasa kaku dan tidak nyata
karena subyeknya adalah John, nama John tidak mencerminkan nama asli siswa Indonesia
dan siapa John itu? Tidak jelas.
Sedangkan pada kalimat kedua lebih luwes dan hidup . Perhatikan kata awal “Dear Diary, Kata ini lebih luwes. Dan
subyek kalimat tersebut adalah I
(saya) jadi lebih nyata benar-benar menunjukkan pengalaman sang penulis dalam
hal ini siswa itu sendiri. Dengan cara seperti ini akan memberikan pengalaman yang
nyata pada siswa dan akan memberikan efek yang luar biasa karena dengan
terlibat langsung dalam pembelajaran maka akan menancap lama di otak mereka.
Alasan yang berikutnya adalah buku harian merupakan media yang nyata atau authentic bagi siswa. Pemanfaatan media seperti ini akan
meningkatkan motivasi siswa dalam
latihan menulis dan memahami bentuk kalimat dalam hal ini simple past tense dan future tense. Dengan latihan menyusun kalimat dalam bentuk simple past tense dan simple future tense secara intensif pada
buku harian maka secara tidak langsung penguasaan kosakata siswa akan meningkat
begitu juga dengan pemahaman akan simple
past tense dan future tense juga
meningkat. Latihan menulis dengan cara yang intensif seperti ini dan berulang -
ulang akan mengasah ingatan mereka akan pemahaman perubahan kata kerja dan akan
bertahan lama di otak mereka seperti
yang dinyatakan oleh Seifert (1983) tugas guru untuk menyampaikan informasi baru
yang bertujuan memastikan terjadinya
proses mengingat.
Kemudian bagaimana cara menerapkannya pada siswa? Pertama kali yang
harus dilakukan adalah memperkenalkan konsep dasar dari kalimat berbentuk
lampau atau simple past tense dan
kalimat berbentuk future tense secara
bertahap. Kemudian memberikan contoh
kalimatnya. Sebagai contoh,
setelah siswa diberi contoh , pada hari berikutnya siswa diminta untuk
menuliskan apa yang telah mereka lakukan sebelum berangkat ke sekolah cukup
sebanyak tiga kalimat. Di hari berikutnya meningkat sembilan kalimat begitu
seterusnya sampai dirasa kemampuan siswa dalam
menyusun kalimat tersebut meningkat. Kemudian baru siswa diperkenalkan
pada kalimat berbentuk future tense dan
diberikan contoh kalimatnya. Pada hari berikutnya siswa diminta menuliskan tiga
kalimat yang berupa rencana yang akan dilakukan besok. Begitu seterusnya sampai
dirasa bahwa kemampuan siswa meningkat.
Secara teknis buku harian ini dikerjakan oleh siswa secara intensif di
rumah. Dan dipantau oleh guru secara intensif pula.
Dengan kegiatan seperti penjelasan di atas maka konsep pemahaman
siswa akan kalimat dalam bentuk simple past tense dan future tense akan menancap pada otak
mereka karena sering di ulang- ulang . Dan secara tidak langsung kemampuan
penguasaan kosakata mereka juga akan meningkat karena ketika setiap kali membuat kalimat yang baru
pasti kalau tidak mengulang kata yang sama pasti akan menggunakan
kata yang baru. Maka siswa akan sering membuka kamus untuk mencari
kosakata yang baru tersebut. Bisa di bayangkan apabila dalam sehari siswa membuat tiga kalimat dimana tiap
kalimatnya terdapat minimal tiga kata baru. Maka sudah sembilan kata baru yang diperoleh. Apabila
latihan tersebut dilakukan secara istikomah dan konsisten maka dalam satu bulan
sudah berapa kata yang dikuasai oleh siswa? Dalam satu semester sudah bisa
diperkirakan kurang lebih sekitar 450 kosakata yang dikuasai oleh siswa.
Dari pemaparan diatas maka dapat disimpulkan bahwa buku harian
dapat dijadikan media yang maksimal untuk mengoptimalkan kemampuan menyusun
kalimat siswa dalam bahasa Inggris khususnya dalam bentuk simple past tense dan future tense. Dengan pengoptimalan buku harian , siswa akan
merasa belajar dalam suasana santai tapi serius. Tetapi yang perlu diperhatikan
adalah tugas yang diberikan harus istikomah atau ajeg dan konsisten serta
selalu dipantau oleh guru untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan siswa dalam
kemampuan menyusun kalimat tersebut. Dan yang tidak kalah penting adalah umpan
balik dari guru kepada siswa atas apa yang telah dicapai. Dalam memberikan
umpan balik sebaiknya dilakukan secara terencana dan bertahap. Hal ini
dilakukan untuk memperingan tugas guru dan akan lebih efektif dan maksimal
dalam memberi umpan balik.
Daftar Pustaka
A.B,Haviva. 2013. Rahasia
menguasai bahasa asing dengan otak kanan.Yogyakarta: DIVAPress
Indriana, Diana. 2011. Ragam
Alat Bantu Media Pengajaran. Yogyakarta: DIVAPress.
Seifert, Kelvin. 2012. Pedoman
Pembelajaran dan Instruksi Pendidikan.Yogyakarta: IRCiSoD
Soebachman, Agustin. 2014. 4
hari mahir menulis.Yogyakarta: Syura Media Utama
No comments:
Post a Comment