Wednesday, September 12, 2018

PERJUMPAAN SAINS DAN AGAMA

PERJUMPAAN SAINS DAN AGAMA
PERSPEKTIF  JOHN F. HAUGHT

Ahmad Nurcholis, M.Pd
IAIN Tulungagung Jawa Timur

Selama hampir 25 tahun Haugth memberi kursus tentang sains dan agama bagi para mahasiswa pramaster di Universitas Georgetown. Ia mengajarkan bahwa kebudayaan, etika dan bahkan agama manusia pun dipengaruhi oleh pembatas-pembatas genetik. Semuanya bagaikan peta kosmik yang dapat bergeser secara dramatik. Arah masa depan sejarah bergantung pada keputusan generasi sekarang ini menyangkut relasi antara agama dan sains. Buku yang ia tulis berjudul Science and Religion: From Conflik and Conversation merupakan pengantar bagi kaum awam (non ahli)  menuju masalah-masalah pokok dalam sains dan agama dewasa ini. Tujuannya adalah membangun dialog. Haught mengartikan agama sebagai gambaran eksistensi Tuhan yang transenden, penuh kasih, kreatif, personal dan redemptive. Sedangkan sains adalah kumpulan  pengetahuan yang tersusun secara sistematik, yang bahan-bahannya  terdapat di luar diri manusia yang berupa obyek nyata dan bersifat empiris. Keduanya bertemu pada titik dimana eksistensi kreatifitas Tuhan tergambar dalam dua dimensi transenden dan empiris sejauh kuasa akal (sains) dan keyakinan (agama) manusia menemukannya.


PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Bagi agama, keberhasilan gilang-gemilang sains di berbagai aspek kehidupan manusia, terutama sejak Renaisans, sekurang-kurangnya menimbulkan tanggapan yang mendua: harapan baru dan juga kekhawatiran baru.
Agama mungkin bisa mengharapkan sains membersihkan unsur-unsur takhayuli yang menyusup, disadari atau tidak, ke dalam ajaran-ajarannya. Tetapi, agama juga khawatir, kalau-kalau sains akan menyisihkannya, atau malah meniadakannya. Meskipun harapan ini tampaknya tidak terpenuhinya, kecemasannya pun untungnya tidak terlalu mengkhawatirkan.
Pada kenyataannya, agama menjalin hubungan dangan sains dalam pola yag tidak sederhana. Ada spektrum yang cukup luas dalam pandangan tentang hubungan agama-sains: dari ekstrem konflik hingga peleburan total. Dalam Perjumpaan Sains dan Agama, sang pengarang menampilkan empat kubu yang berbeda "konflik, kontras, kontak, konfirmasi" di panggung perdebatan.
Dengan lahirnya agama, tidak saja telah menjadikan umat manusia memiliki iman, tapi hal lain yang tidak bisa dipandang sebelah mata adalah terbangunnya manusia yang beretika, bermoral dan beradab yang menjadi pandangan hidup bagi manusia dalam menjalani hidup di dunia. Sementara sains dengan puncak perkembangan yang telah dicapai, juga telah menjadikan kemajuan dunia dengan berbagai penemuan yang gemilang.
Meski kemudian, dari sengketa itu lambat laun bisa diterima oleh sebagian kaum agamawan, berkat penemuan terbaru sains, setidaknya telah menunjukkan pergeseran akan hubungan yang sebenarnya tak melulu saling berseteru. Dengan kata lain, dalam perdebatan mengenai hubungan sains dan agama, tidak selalu membangun simpul kesepakatan.
Ada ruang kosong yang itu merupakan ruang debat yang tak sederhana, melainkan juga amat membingungkan dan bahkan membuat "pusing" kepala.
Memang, harus diakui bahwa "nasib" agama dikhawatirkan bisa terancam dengan kemunculan sains yang seolah menyerang agama habis-habisan. Kendati demikian, tetaplah muncul pula sebuah harapan akan peranan sains dalam menyingkirkan unsur-unsur "takhayul" dalam ajaran agama dan dengan itu bisa membantu agama tetap eksis "dipeluk" umat manusia karena bersifat rasional.
Perdebatan sengit seputar hubungan sains dan agama yang cukup rumit dan pelik sepanjang sejarah itulah yang dihadirkan oleh John F Haught dalam buku yang berjudul asli Science and Religion: From Conflik and Conversation ini.
Dengan menampilkan tipologi yang dipetakan dengan jelas, penulis -Guru Besar Teologi pada Universitas Georgetown, AS-ini, selain telah menyajikan perdebatan seru, juga telah memajang sebuah kaca spektrum luas akan hubungan sains-agama, mulai dari sikap yang menunjukkan konflik antar keduanya hingga saling melebur dalam bentuk peneguhan.
Empat Kubu mungkin saja tidaklah salah, jika hubungan sains dan agama itu telah menorehkan dilema. Itu bisa dimaklumi sebab dari perbedaan pandangan itu tak saja telah mewarnai perdebatan dengan berbagai argumen yang kuat, tapi telah membangun tipologi yang kemudian mengerucut menjadi sebuah upaya dialog.

B.       Fokus Masalah
Menurut perspektif Haught, dalam perdebatan antara sains dan agama terbangun empat tipologi: konflik, kontras, kontak dan konfirmasi.
Bagi kubu konflik, hubungan antara sains dan agama selain berlawanan, juga dianggap bertolak belakang dan tak bisa dipertemukan. Sebab antara agama dan sains, dilihat saling bertarung untuk membenarkan dirinya sendiri. Tidak hanya itu, keduanya juga saling menyudutkan dan karena itu tak mungkin bisa diselaraskan.
Kubu kontras memandang agama dan sains masing-masing memiliki wilayah kerja sendiri-sendiri yang otonom, terpisah, dan absah. meskipun tidak perlu bertemu, keduanya harus saling menghormati integritas masing-masing.
Dengan dalih menghindari pertemuan, kubu kontak menyarankan agama saling tertukar pandangan dengan sains untuk memperkaya perspektif tentang kenyataan. Akan tetapi, keduanya tidak mesti bermufakat, apalagi meleburkan diri.
Bergerak lebih dari itu, kubu konfirmasi menyarankan agama dan sains agar saling mengukuhkan, terutama dalam berbagai pandangan tentang anggapan-anggapan dasar tentang realitas, tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.
Dalam pembahasan mengenai Perjumpaan Sains dan Agama dari Konflik ke Dialog (Science and Religion: From Conflik and Conversation) ini, Haught mengangkat Sembilan permasalahan yaitu: 1) Apakah Agama bertentangan dengan sains?, 2) Apakah sains menyingkirkan Tuhan yang personal?, 3) Apakah evolusi menyingkirkan keberadaan Tuhan?, 4) Dapatkah hidup direduksi ke dalam ilmu kimia?, 5) Apakah alam semesta diciptakan?, 6) Apakah kita benar-benar produk alam semesta ini?, 7) Mengapa ada kompleksitas dalam alam?, 8) Apakah alam semesta mempunyai tujuan?, 9) Apakah agama bertanggung jawab atas krisis ekologi?.
Haught menampilkan masing-masing kubu untuk memaparkan argumentasinya dan kritiknya kepada kubu-kubu lain. Dengan cara ini, dia mengajak pembaca untuk melihat lanskap persoalan hubungan sains-agama dalam dimensi-dimensi kemanusiaan yang kaya dan menyeluruh.


PEMBAHASAN

A.      Pengertian Sains dan Agama
Sulit bagi kita menentukan definisi ilmu, tergantung dari perspektif mana kita memandangnya Salah  satu definisi ilmu yang untuk selanjutnya juga disebut sebagai ilmu pengetahuan adalah A systematized knowledge detived from observation, study and exrerimentation carried in order to determine the principle of being studied.[1]  Batasan di atas menggambarkan bahwa sains bukan  sekedar pengetahuan, namun sains memiliki sistematika tertentu yang menjadi syarat absahnya sebuah pengetahuan (knowledge) yang diklaim sebagai ilmu pengetahuan (science).
Ada sejumlah penafsiran tentang  ilmu pengetahuan,antara lain, istilah ilmu pengetahuan itu dapat disamakan pengertiannya dengan istilah Belanda  weten schap  yang artinya mencakup semua ilmu pengetahuan dalam arti seluas-luasnya. Bila dikenal  dengan science, memberi arti kumpulan  pengetahuan yang tersusun secara sistematik, yang bahan-bahannya  terdapat di luar diri manusia yang berupa obyek nyata dan bersifat empiris. Adapun istilah ilmu pengetahuan yang menunjuk pada  suatu kumpulan pengetahuan  yang sesungguhnya sudah siap dipakai (applied science)  biasa disebut  dicipline.[2]
Sedangkan agama menurut Haught adalah keyakinan teistik akan Tuhan “personal” yang dihubungkan dengan apa yang disebut sebagai keyakinan-keyakinan, mencakup refleksi tentang keyakinan religius  yang umumnya dikenal sebagai “teologi”. Keduanya bertemu pada titik dimana eksistensi kreatifitas Tuhan tergambar dalam dua dimensi transenden dan empiris sejauh kuasa akal (sains) dan keyakinan (agama) manusia menemukannya.

B.       Kegunaan Sains
Ilmu pengetahuan yang isinya adalah teori ilmiah yang diuji kebenarannya secara empirikal memberi makna teori sebagai pendapat yang beralasan. Alasan itu dapat berupa  argumen logis, ini teori filsafat; berupa argumen perasaan atau keyakinan dan kadang-kadang empiris, ini teori dalam pengetahuan mistik; berupa argumen logis-empiris, ini teori sains. Sekurang-kurangnya ada tiga kegunaan teori  sain,sebagai alat eksplanasi, sebagai alat peramal dan sebagai alat pengontrol. [3]
Sebagai alat eksplanasi sain merupakan sistem eksplanasi yang paling dapat diandalkan dibandingkan dengan sistem lainnya dalam memahami masa lampau, sekarang, serta mengubah masa depan.[4] Sebagai contoh  Indonesia berduka, 26  Desember 2004. Gelombang Tsunami menyapu habis wilayah Aceh dan daerah lain dalam maupun luar negeri. Korban terbesar di wilayah Aceh yang menghilangkan lebih dari tujuh ratus ribu jiwa yang terdeteksi saja,disamping milyaran rupiah dari sisi finansial. Hal ini terjadi karena tidak adanya eksplanasi akan hal ini. Sama-sama ditimpa Tsunami, tapi Thailand bisa mengurangi jumlah korban dengan mengantisipasi musibah karena sebagian penduduknya telah dikenalkan dengan eksplanasinya.
Penjelasan mengenai pengetahuan Teori Lempeng (untuk sementara dinggap teori paling benar, karena  belum ada teori yang mematahkan) mengeksplanasikan bahwa lempeng-lempeng bumi dalam laut baik yang ada di pusat Utara maupun Selatan mengalami pergeseran sekian centimeter dalam setiap tahun dan dalam sekian tahun kemudian akan patah dan menyebabkan gempa dalam laut dan Tsunami dengan gejala-gejala tertentu. Gambaran gejala yang umum adalah terjadinya air surut, gelombang laut menjorok ke dalam hingga ratusan meter (kedalaman surutnya air mejelaskan besarnya gelombang), juga terjadinya gempa  dengan kekuatan lebih dari 5,9 skala richter.
            Tatkala membuat eksplanasi, biasanya ilmuwan telah mengetahui juga faktor penyebab terjadinya gejala itu. Dengan mengutak-atik faktor penyebab itu,ilmuwan dapat membuat ramalan.Dalam bahaskaum ilmuwan ramalan itu disebut prediksi, untuk membedakannya dari ramalan dukun.[5] Dalam fungsinya ilme sebagai prediksi, setelah  mengetahui eksplanasi, seperti kasus Tsunami tadi,maka untuk selanjutnya bisa diprediksi akan terjadinya peristiwa yang sama, kapan, di wilayah mana, dan sebagainya.        Eksplanasi merupakan bahan untuk membuat ramalan dan kontrol. Ilmuwan selain mampu membuat ramalan berdasarkan eksplanasi gejala juga dapat membuat kontrol.Perbedaan prediksi dan kontrol adalah prediksi bersifat pasif; tatkala ada kondisi tertentu, maka kita dapat membuat prediksi, misalnya akan terjadi ini, itu, begini atau begitu.Sedangkan kontrol bersifat aktif; terhadap suatu keadaan, kita membuat tindakan-tindakan atau menghindari tindakan agar terjadi ini dan itu[6].
            Dalam contoh kasus Tsunami, sebagai kontrol kini telah ditemukan SIG, dengan penginderaan jauh yang multitemporal dan multispektral dapat digunakan untuk menginventarisasi dan memantau bencana alam seperti gunung meletus,gempa bumi, kebakaran hutan, serangan hama dan lain-lain.[7]


C.      Mengenal John F Haught
John F. Haught adalah seorang teolog Katolik Roma dan Senior Research Fellow di Pusat Theological Woodstock di Georgetown University. Wilayah keahliannya adalah teologi sistematis, dengan minat khusus pada isu-isu ilmu pengetahuan, kosmologi, ekologi, dan evolusi rekonsiliasi dan agama. Haught bersaksi terhadap pengajaran perancangan cerdas di sekolah karena sifat agama dalam kasus Kitzmiller v. Dover Area School District Kitzmiller.
Haught mendirikan Pusat Georgetown untuk Studi Sains dan Agama. Ia adalah ketua departemen teologi Georgetown antara 1990 dan 1995. Sebuah penciptaan evolusi, Haught pandangan ilmu pengetahuan dan agama sebagai dua tingkat yang berbeda dan tidak bersaing penjelasan , menegaskan "Ilmu dan agama tidak dapat secara logis berdiri dalam hubungan kompetitif satu sama lain.
Haught lulus dari St Mary Seminary dan Universitas di Baltimore dan kemudian menerima gelar PhD dalam teologi dari Universitas Katolik Amerika pada tahun 1970. Haught juga pemenang Award 2002 Garrigan Owen dalam Sains dan Agama dan 2004 Penghargaan Sophia Excellence Teologi.  Selain itu, pada tahun 2009, sebagai pengakuan atas karyanya pada teologi dan sains, Haught dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa oleh University of Leuven.
Dia adalah penulis beberapa buku tentang kontroversi penciptaan-evolusi, termasuk Deeper Dari Darwin: The Prospek Agama di Era Evolution, Allah Setelah Darwin: A Theology of Evolution, dan Responses to 101 Pertanyaan pada Tuhan dan Evolusi.

D.      Buku karya-karya Haught
Di antara karya-karya Haught adalah :
1)      The Cosmic Adventure: Science, Religion and the Quest for Purpose, 1984, Paulist Press, ISBN 0-8091-2599-4.
2)      What Is God?: How to Think about the Divine, 1986, Paulist Press, ISBN 0-8091-2754-7.
3)      What Is Religion: An Introduction, 1990, Paulist Press, ISBN 0-8091-3117-X.
5)      Science and Religion: In Search of Cosmic Purpose, 2000, Georgetown University Press 2001 reprint: ISBN 0-87840-865-7.
6)      God After Darwin: A Theology of Evolution, 2000, Westview Press 2001 reprint: ISBN 0-8133-3878-6.
8)      Responses to 101 Questions on God and Evolution, 2001, Paulist Press, ISBN 0-8091-3989-8.
9)      In Search of a God for Evolution: Paul Tillich and Pierre Teilhard de Chardin, 2002, American Teilhard Association, ISBN 0-89012-088-9 .
10)  Deeper Than Darwin: The Prospect for Religion in the Age of Evolution, 2003, Westview Press, hardcover: ISBN 0-8133-6590-2, paperback: ISBN 0-8133-4199-X.
11)  The Promise of Nature: Ecology and Cosmic Purpose, 2004, Wipf & Stock Publishers, ISBN 1-59244-945-X.
12)  Is Nature Enough?: Meaning and Truth in the Age of Science, May 2006, Cambridge University Press, ISBN 0-521-60993-3.
13)  God and the New Atheism: A Critical Response to Dawkins, Harris, and Hitchens, December 2007, Westminster John Knox Press, ISBN 978-0-664-23304-4.







E.       Tipologi Perjumpaan Sains dan Agama
Untuk menilai bagaimana pola berfikir John F. Haught dalam bukunya ini, maka terlebih dahulu perlu dijelaskan terlebih dahulu tentang prinsip-prinsip dari empat pendekatan yang digunakannya yaitu:
1.      Konflik
Kelompok yang mengatakan bahwa agama sama sekali bertentangan dengan sains atau bahwa sains membatalkan agama. Dengan kata lain kalau ada agama tidak boleh ada sains, kalau ada sains tidak boleh ada agama.
2.      Kontras
Kelompok yang menandaskan bahwa agama dan sains sangat berbeda satu sama lain sehingga secara logis tidak akan mungkin ada konflik di antar keduanya.
3.      Kontak
Kelompok yang mengatakan bahwa walaupun agama dan sains jelas berbeda, karena sains selalu mempunyai implikasi-implikasi bagi agama, demikian juga sebaliknya. Sains dan agama niscaya berinteraksi satu sama lain; karena itu agama dan teologi tidak boleh mengabaikan perkembangan-perkembangan baru dalam sanis.
4.      Konfirmasi
Kelompok yang melihat bagaimana agama dapat berperan positif dalam mendukung pertualangan ilmiah mencari penemuan. Ia mengupayakan cara-cara yang dapat ditempuh agama, tanpa sama sekali memcampuri sains, untuk dapat meretas jalan bagi beberapa ide, dan bahkan merestui penyelidikan ilmiah akan kebenaran.

Proses penganalisaan pemikiran tentang Perjumpaan Sains dan Agama ini, penyusun mengangkat tema yang pertama untuk membatasi cakupannya sehingga akan kelihatan pola secara mandiri dan dapat diterapkan untuk tema-tema berikutnya.
Beberapa pemikiran yang kemudian dicatatkan dalam sebuah kolom dengan maksud untuk memudahkan menganalisa kedudukan dan pola fikir dari empat pendekatan di atas.
NO
PENDEKATAN
TOKOH
PEMIKIRAN/KEJADIAN

Konflik
Galileo
Penyiksaan oleh gereja pada abad ke-17
Darwin
Teologi yang antiteori evolusi Darwin abad ke-19 dan 20
Kaum skeptis ilmiah (Karl Popper)
Kendala epistemology agama dan teologi terhadap kaum skeptik ilmiah; kaum skeptik ilmiah bersedia mengganti teori dengan pembuktian ilmiah sementara agama dan teologi tidak.
Karl Popper mengatakan bahwa sains sejati harus sungguh2 berupaya pengajuakan bukti yang bisa menunjukkan bahwa pemikirannya keliru.
Kaum literalis biblikal
Orang yang berfikiran bahwa kata-kata kitab suci adalah benar secara harfiah, seringkali melihat konflik antara keyakinan mereka dengan teori ilmiah.
Kaum Kristen di Amerika
Alkitab mengajarkan sains yang benar sementara sains di dunia harus ditolak jika tidak cocok dengan apa yang ditulis di dalam Alkitab.
Kritikus2 (Bryan Appleyard)
Secara sepiritual, sains bersifat merusak yaitu dengan mengikis habis otoritas-otoritas dan tradisi-tradisi kuno. Akibatnya pengalaman modern kehilangan makna tradisional.











Kontras[8]
Ilmuan dan Teolog
Masing-masing adalah absah (valid) meskipun hanya dalam batas ruang lingkup penyelidikan  mereka sendiri yang sudah jelas. Mencegahnya jangan sampai melanggar tapal batas wilayah yang lain, di sana tidak akan pernah ada "masalah" yang sesungguhnya antara sains dan agama.
Kegagalan gereja untuk mengakui ranah-ranah sains dan agama yang terpisah telah menyebabkan para penguasa gereja itu mengutuk pemikiran-pemikiran baru Galileo, seakan-akan pemikiran itu merupakan pelanggaran ke dalam tapal batas ranah mereka sendiri.
Kristen konservatif
Mengatakan bahwa karena Kitab Suci itu ialah inspirasi Ilahi dan tidak mengandung kesalahan, dia memberi kita informasi ilmiah yang paling dapat dipercaya tentang awal mula alam semesta dan kehidupan.


Aliran Konkordisme
Menurut penafsiran mereka, bagaimanapun, agama harus dibuat sedemikian rupa sehingga tampak ilmiah kalau agama itu mau dihargai secara intelektual dewasa ini.
Gerald Schroeder[9]
Dalam bukunya Genesis and the Big Bang, mengatakan bahwa Teori Relativitas menantang gagasan rasional umum mengenai keserentakan absolut (absolute simultaneity) dan dengan teori tersebut, memungkinkan kita untuk memahami secara harfiah rangkaian penciptaan selama enam hari, sebagaimana dilukiskan dalam Kitab suci.
Penganut Kontras
Pendekatan kontras membantu mengingatkan kita bahwa yang menjadi musuh agama itu boleh jadi bukanlah sains itu sendiri, melainkan saintisme. Mereka mengatakan bahwa peleburan terselubung antara sains dan saintisme itulah yang mendasari oposisi yang dilakukan oleh para ilmuwan modern terhadap agama.

Kontak[10]
Ian Barbour[11]
Pendekatan kontras merupakan perkiraan pertama yang dapat membantu, tetapi pendekatan kontras itu membiarkan segala sesuatu berada pada jalan buntu yang bisa membuat orang putus asa.[12]
Thomas Kuhn
Buku-buku teks ilmiah, cenderung "menyembunyikan" atau menutupi pertikaian-pertikaian dan konflik-konflik yang mendasari evolusi pemahaman ilmiah. Buku-buku teks itu memberi kesan kepada para pengkaji bahwa metode ilmiah merupakan jalan lurus dan langsung menuju kebenaran, padahal sejarah ilmu pengetahuan yang sebenarnya menunjukkan bahwa pertumbuhan dalam pengetahuan hampir-hampir tidak selurus dan semulus seperti itu.[13]


Pemikir modern dan posmodern
Teori-teori ilmiah dan metafora-metafora keagamaan, dalam persepakatan epistemologis ini, bukan hanya sekadar ramuan imajinasi belaka, mereka justru mengemban suatu relasi yang selalu bersifat tentatif dengan satu dunia nyata dan landasannya yang terakhir. Dunia di seberang daya-daya representasi kita ini hanya selalu bisa ditangkap secara tidak utuh, dan kehadirannya terus-menerus "menguji" hipotesis-hipotesis kita, dengan mengundang kita terus-menerus memperdalam pemahaman kita, baik dalam bidang iimu pengetahuan maupun dalam bidang agama, jadi mereka saling berbagi secara timbal-balik dalam keterbukaan kritis terhadap apa yang nyata. Hal inilah yang menjadi landasan bagi adanya "kontak" sejati antara sains dan agama.










Konfirmasi[14]



John F. Haught
Agama tidak boieh dipakai untuk memperkuat cara-cara berbahaya yang di dalamnya pengetahuan ilmiah sering kali diterapkan dalam kenyataan. Usul saya hanyalah bahwa agama pada dasarnya memperkuat kerinduan sederhana akan pengetahuan. Agama memperkuat dorongan yang bisa memunculkan sains.[15]







Kritikus
Banyak kritikus bahkan berpikir bahwa sains itu bertanggung jawab atas sebagian besar penyakit yang diderita dunia modern ini. Menurut mereka, kalau bukan karena sains, mungkin kita tidak akan mengalami ancaman nuklir, tidak akan mengalami polusi global udara, tanah, dan air. Kita dan planet kita ini mungkin saja bernasib jauh lebih baik kalau tanpa sains. Mereka mengatakan, sainslah yang merupakan akar-akar dari serangan atas alam, suatu aksi penumpasan yang terkendali. ini adalah upaya Faustian untuk menerobos semua misteri kosmos sehingga kita dapat menjadi tuan atasnya.[16]

F.        Perjumpaan Sains dan Agama dalam Perspektif Islam
a.      Nilai Islam
Al-Qur’ân mengajak umat Islam untuk melakukan pengembangan ilmu pengetahuan, memerdekakan akal dari belenggu keraguan, merdeka dalam berpikir (menggunakan akal), dan mendorong untuk melakukan pengamatan terhadap fenomena (gejala) alam. Al-Qur’ân mendorong umat manusia untuk mengamati ayat-ayat kawniyyah di samping ayat-ayat Qur’âniyyah. Oleh karenanya banyak kita temukan di dalam Al-Qur’ân al-Karîm, di mana redaksi ayat-ayatnya diakhiri dengan;   ( قد فصلنا الآيات لقوم يعلمون) ( لقوم يفقهون ), (لقوم يتفكرون ).[17]
Hakekat Mempelajari Sains Tuhan mempersilahkan manusia untuk memikirkan alam semesta berikut isinya dan segala konteksnya, kecuali jangan pernah memikirkan Dzat Tuhan, karena alam pikiran manusia tidak akan pernah mencapainya. Hal ini adalah sebagaimana tercantum dalam sebuah hadis Nabi :“Pikirkanlah ciptaan Allah dan jangan memikirkan Dzat Allah, sebab kamu tak akan mampu mencapaiNya”. Bahkan dalam QS Ar Rahmaan Ayat 33, Tuhan berfirman :
Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.

Pada prinsipnya apa yang disabdakan Nabi SAW dan yang difirmankan Tuhan ini memberikan kesempatan kepada manusia untuk melakukan pemikiran dan eksplorasi terhadap alam semesta. Upaya penaklukan ruang angkasa harus dilihat sebagai suatu ibadah manusia yang ditujukan selain untuk memahami rahasia alam, juga demi masa depan kehidupan manusia. Pencarian ilmu bagi manusia agamis adalah kewajiban sebagai bentuk eksistensi keberadaannya di alam semesta ini. Ilmu pengetahuan dapat memperluas cakrawala dan memperkaya bahan pertimbangan dalam segala sikap dan tindakan. Keluasan wawasan, pandangan serta kekayaan informasi akan membuat seseorang lebih cenderung kepada obyektivitas, kebenaran dan realita. Ilmu yang benar dapat dijadikan sarana untuk mendekatkan kebenaran dalam berbagai bentuk. Orang yang berilmu melebihi dari orang yang banyak ibadah, ilmu manfaatnya tidak terbatas, bukan hanya bagi pemiliknya, tetapi ia membias ke orang lain yang mendengarkannya atau yang membaca karya tulisnya. Sementara itu, ibadah manfaatnya terbatas hanya pada si pelakunya. Ilmu dan pengaruhnya tetap abadi dan lestari selama masih ada orang yang memanfaatkannya, meskipun sudah beberapa ribu tahun. Tetapi pahala yang diberikan pada peribadahan seseorang, akan segera berakhir dengan berakhirnya pelaksanaan dan kegiatan ibadah tersebut.
Pernyataan dari Bryan Appleyard bahwasains itu bertanggung jawab atas sebagian besar penyakit yang diderita dunia modern ini. Menurut mereka, kalau bukan karena sains, mungkin kita tidak akan mengalami ancaman nuklir, tidak akan mengalami polusi global udara, tanah, dan air. Kita dan planet kita ini mungkin saja bernasib jauh lebih baik kalau tanpa sains. Mereka mengatakan, sainslah yang merupakan akar-akar dari serangan atas alam, suatu aksi penumpasan yang terkendali. ini adalah upaya Faustian untuk menerobos semua misteri kosmos sehingga kita dapat menjadi tuan atasnya.” Menunjukkan bahwa bagaimana dalam Islam dijelaskan bahwa kerusakan di dunia dikarenakan tangan manusia.
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).  (QS Al-Rum:41)

b.      Penerapan Nilai Islam
Para Ulama sejak dahulu selalu berusaha mendalami hukum hukum yang terkandung dalam Al-Quran dan As-Sunah yang kadang-kadang di antara mereka terdapat perbedaan paham dan pendapat dalam menetapkan hukum yang mereka istimbatkan dari Al-Quran dan As-Sunah tersebut. Hal ini dikarenakan di antara ayat Al-Quran ataupun Hadits Nabi itu ada yang bersifat dzanni, sehingga memerlukan pemikiran dan usaha yang sungguh-sungguh untuk dapat memahami nash-nash yang demikian.
Usaha dan pemikiran yang sungguh-sungguh dari para Ulama untuk menetapkan hukum Islam inilah yang dikenal dengan sebutan “Ijtihad”, sedangkan para Ulama yang melakukannya disebut “Mujtahid”. Berusaha mendalami hukum Islam memang merupakan sesuatu keharusan dalam ajaran Islam, dan orang yang melakukannya sudah barang tentu memperoleh derajat yang lebih tinggi dibanding kelompok lainnya.
Cara berpikir bayani, burhani dan irfani menjadi kerangka metodologi pemikiran keislaman, dengan rincian sebagai berikut: 1) Pendekatan bayani merupakan studi filosofis terhadap sistem bangunan pengetahuan yang menempatkan  teks (wahyu)  sebagai suatu kebenaran mutlak; 2) Pendekatan burhani atau pendekatan rasional argumentatif adalah pendekatan yang mendasarkan diri pada kekuatan rasio yang dilakukan melalui dalil-dalil logika; 3) Pendekatan emosional-spiritual (al-irfan) adalah pendekatan pemahaman yang bertumpu pada pengalaman batini, zauq, qalb, wijdan, basirah dan intuisi.[18]
Pada abad ke 8 hingga abad ke 12 Masehi, umat Islam berada dalam zaman keemasan. Zaman dimana ilmu pengetahuan dan peradaban Islam berkembang pesat mencapai puncaknya. Pada saat itu umat Islam menjadi pemimpin dunia karena perhatiannya yang sangat besar tidak hanya dari sisi keilmuan agama, tetapi juga ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu murni. Tokoh-tokoh Islam pada masa itu antara lain: 1) Alkindi (185H/807M– 260H/873M). 2) AlFarabi (267H/890M). 3) Ibnu Sina (370H/980M–428H/1037M) dan 4) Al-Ghazali (450H/1058M – 505H/1111M).
c.       Contoh Penafsiran Al-Qur’an Berbasis Sains Modern
1.    Rahasia Besi (Fisika)
            Surat al-Hadid (57) ayat 25:
        ... وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيْدَ فِيْهِ بَأْسٌ شَدِيْدٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِ .... (الحديد : 25)
Artinya:           “…dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia…” [19]
Penjelasan (penafsiran) Ilmiah:
            Kata “anzalnâ ( أنزلنا )” yang berarti “Kami turunkan” khusus digunakan untuk besi dalam ayat ini, dapat diartikan secara kiasan untuk menjelaskan bahwa besi diciptakan untuk memberi manfaat bagi manusia. Tapi ketika kita mempertimbangkan makna harfiah kata ini, yakni “secara bendawi diturunkan dari langit”, kita akan menyadari bahwa ayat ini memiliki  kejaiban ilmiah yang sangat penting. Ini dikarenakan penemuan astronomi modern telah mengungkap bahwa logam besi ditemukan di bumi kita berasal dari bintang-bintang raksasa di angkasa luar.
          Logam berat di alam semesta dibuat dan dihasilkan dalam inti bintang-bintang raksasa. Akan tetapi sistem tata surya kita tidak memiliki struktur yang cocok untuk menghasilkan besi secara mandiri. Besi hanya dapat dibuat dan dihasilkan dalam bintang-bintang yang jauh lebih besar dari matahari, yang suhunya mencapai beberapa ratus juta derajat. Ketika jumlah besi sudah melampaui batas tertentu dalam suatu bintang, bintang tersebut tidak mampu lagi menanggungnya, dan akhirnya meledak melalui peristiwa yang disebut “nova” atau “supernova”. Akibat dari ledakan ini, meteor-meteor yang mengandung besi bertaburan di seluruh penjuru alam semesta dan mereka bergerak melalui ruang hampa hingga mengalami tarikan oleh gaya gravitasi benda angkasa. Semua ini menunjukkan bahwa logam besi tidak terbentuk di bumi melainkan kiriman dari bintang-bintang yang meledak di ruang angkasa melalui meteor-meteor dan “diturunkan ke bumi”, persis seperti dinyatakan dalam ayat tersebut: Jelaslah bahwa fakta ini tidak dapat diketahui secara ilmiah pada abad ke-7 ketika Al-Qur’ân diturunkan.[20] Pada penjelasan kitab-kitab tafsir yang ada pada umumnya, kalimat وأنزلنا diartikan atau diterjemahkan dengan; “dan Kami ciptakan” bukan “dan Kami turunkan”.
2.    Gempa Bumi (Geologi)
            Surat al-Zalzalah (99) ayat 1 - 4:
        اِذَا زُلْزِلَتِ اْلأَرْضُ زِلْزَالَهَا * وَأَخْرَجَتِ اْلأَرْضُ اَثْقَالَهَا * وَقَالَ اْلإِنْسَانُ مَالَهَا *
        يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا * (الزلزال :  1- 4)
Artinya:           “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban beratnya. Dan manusia bertanya: ‘Mengapa bumi (jadi begini)?’. Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” [21]
Telaah Ilmiah:
            Lempeng-lempeng litosfer bergerak dan saling berinteraksi satu sama lain. Pada tempat-tempat saling bertemu, pertemuan lempengan ini menimbulkan gempa bumi. Sebagai contoh adalah Indonesia yang merupakan tempat pertemuan tiga lempeng: Eurasia, Pasifik dan Indo-Australia. Bila dua lempeng bertemu, maka terjadi tekanan (beban) yang terus menerus, dan bila lempengan tidak tahan lagi menahan tekanan (beban), maka lepaslah beban yang telah terkumpul ratusan tahun itu, dan dikeluarkan dalam bentuk gempa bumi. Apabila bumi “digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat).” Dan bumi telah “mengeluarkan beban-beban beratnya.” Dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?”. Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” Beban berat yang dikeluarkan dalam bentuk gempa bumi merupakan suatu proses geologi yang berjalan bertahun-tahun. Begitu seterusnya, setiap selesai beban dilepaskan, kembali proses pengumpulan beban terjadi. Proses geologi atau ‘berita geologi’ ini dapat direkam baik secara alami maupun dengan menggunakan peralatan geofisika ataupun geodesi. Sebagai contoh adalah gempa-gempa yang beberapa puluh atau ratus tahun yang lalu, peristiwa pelepasan beban direkam dengan baik oleh terumbu karang yang berada dekat sumber gempa. Pada masa modern, pelepasan energi ini terekam oleh peralatan geodesi yang disebut GPS (Global Position System).[22]




PENUTUP

A.      Kesimpulan
Dalam penulisan tentang pertemuan sains dan agama ini, John F Haught setidaknya mempunyai sikap: 1) Haught menerima perspektif evolusioner bahwa teologi secara mutlak direvisi berdasarkan perspektif konflik, kontras, kontak dan konfirmasi, 2) Haught percaya akan teologi dinamis, dan karena itu menafikan pengetahuan dan kekuasaan Tuhan yang bersifat mutlak. Menurutnya, Tuhan rela membagikan kekuasaan kepada alam dengan memberikannya kemampuan untuk menata diri sendiri, 3) Dalam pandangannya, alih-alih mempertahankan situasi yang ada sekarang. Tuhan mempertaruhkan keterbatasan pengetahuan-Nya tentang masa depan, dan karena itulah evolusi berkembang, 4) Haught percaya bahwa tujuan alam itu tidak dapat dicari di wilayah sains karena ia merupakan rahasia dan harus tetap rahasia selamanya yang bahkan tidak akan tersingkapkan oleh agama.
Meskipun sampai pada pendekatan konfirmasi, sesungguhnya saya melihat bahwa pandangan Haught ini masih meletakkan bahwa agama dan sains tetap pada tempatnya masing-masing. Mereka berasal dari tempat yang berbeda. Hal ini tampaknya berbeda dengan konsep agama Islam bahwa semua potensi yang dapat diketahui oleh manusia bersumber dari satu yaitu wahyu, hanya saja dalam konteksnya masing-masing terjadi pembagian ada yang tergolong qauliyah yaitu berupa nilai-nilai hidup dan kehidupan yang didasari oleh kepercayaan/keyakinan/apriori. Sementara sains tergolong kauniyah (empiris) yangmana pengenalan tentang hal ini dibuktikan dengan perhitungan ilmiah yang melahirkan nilai-nilai yang dibuat oleh manusia.
Pertanyaannya adalah: Bagaimana manusia dapat mengambil pelajaran bahwa bukti-bukti yang ditemukan melalui sains adalah pembuktian dari nilai-nilai agama yang tidak secara gamblang dijabarkan?. Sekali lagi hal ini tergantung dari kelompok yang memberikan pandangan terhadap agama. Sementara agama yang berkembang dan terkelompok kepada beberapa agama, masing-masing yakin akan kebenarannya. Yang menjadi permasalahan adalah jika nilai-nilai agama ternyata bertentangan dengan fakta empiris yang dirasakan oleh manusia.
B.       Saran-saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka Penulis dapat mengemukakan beberapa saran antara lain:
1.      Bagi Haught. Selain empat tipologi yang dikemukakan Haught, yaitu: konflik, kontras, kontak, konfirmasi. Alangkah baiknya mengenal satu tipologi yang berasal dari ilmu ushul fikih yaitu “al-Jam’u wa al-Taufiq (الجمع و التوفيق). Adalah upaya untuk menggabungkan kesamaan-kesamaan ide, argumentasi maupun penafsiran  antara sains dan agama selanjutnya menemukan kesepakatan antara keduanya.
2.      Bagi pembaca. Agar senantiasa konsisten memadukan sains dan agama sebagai dua entitas yang sama-sama telah mewarnai sejarah kehidupan umat manusia. Sebab, keduanya telah berperan penting dalam membangun peradaban. Dengan lahirnya agama, tidak saja telah menjadikan umat manusia memiliki iman, tapi hal lain yang tidak bisa dipandang sebelah mata adalah terbangunnya manusia yang beretika, bermoral dan beradab yang menjadi pandangan hidup bagi manusia dalam menjalani hidup di dunia.
3.      Bagi generasi intelektual muslim. Agar mewujudkan harmonisasi antara sains dan agama. Walaupun sejarah mencatat, bagaimana klaim sepihak lembaga agama telah menjadikan Galileo (1564-1642) jadi korban setelah ia dengan lantang bersuara bahwa matahari adalah pusat alam semesta (sementara dalam kitab suci kristen justru sebaliknya), dan sikap “sentimen” agama dalam melihat teori evolusi Darwin. Meski kemudian, dari sengketa itu lambat laun bisa diterima oleh kaum agamawan, tapi berkat penemuan terbaru sains—setidaknya—telah menunjukkan pergeseran akan hubungan yang sebenarnya tidak melulu saling berseteru.




Referensi
Ahmad Tafsir, 2004. Prof.r.Filsafat Ilmu. Bandung: Bina Prakarsa Ilmu.
Aslinda; Syafyahya, Leni. 2007. Pengantar Sosiolinguistik. Bandung: Refika Aditama.
Assegaf, Abdur Rahman. 2007. Pendidikan Islam Di Indonesia, Yogyakarta: Suka Press.
Bernard Lonergan, S.J., Insight: A Study of Human, Understanding, New York: Philosophical Library, 1970
Bryan Appleyard, Understanding the Present, Science and the Soul of Modern Man, New York Doubleday, 1993
Endang Saifudin Anshari. 2003. Ilmu Filsafat dan Agama. Surabaya,Bina Ilmu.
Gerald schroeder, Genesis and the Big Bang: The Discovery of Harmony Between Modern Science and the Bible, New York: Bantam Books, 1990
Hidayat, Asep Ahmad. 2006. Filsafat Bahasa, Mengungkap Hakikat Bahasa, Makna dan  Tanda. Bandung: Remaja Rosdakarya.
http://t-djamaluddin.spaces.live.com. Diakses tanggal 23 September 2013
Ian Barbour,  Religian in an Age of Science, New York: Harper & Row, 1990
John f. Haught, “Perjumpaan Sains dan Agama dari Konflik ke Dialog”, (Mizan, Bandung: 2004 (diterjemahkan dari Science and Religion : From Konflict to Conversation)
Lihat web side URL : http://guardyan.blogspot.com/2013/09/tipologi-hubungan-sains-dan-agama.html, diakses tanggal 23 September 2013
Lihat web side URL : http://www.makalahkuliah.com/2013/09/metode-ijtihad-bayani-kajian-filsafat.html, diakses tanggal 23 September 2013
Ma’arif , Syamsul, 2007. Revitalisasi Pendidikan Islam, Yogyakarta:Graha Ilmu.
Machfudz Ibawi, 1986 . “Modus Dialog di Perguruan Tinggi Islam”, dalam Amin Husni et.al., Citra Kampus Religius Urgensi Dialog Konsep Teoritik Empirik Dengan Konsep Normatif Agama, Surabaya: PT. Bina Ilmu.
Moh. Shofan, 2004. “Pendidikan Berparadigma Profetik; Upaya Konstruktif Membongkar Dikotomi Sistem Pendidikan Islam” . Jogjakarta:UGM Press Jawa Timur.
Prof. Dr. H. Haidar Putra Daulay, MA, Pemberdayaan Pendidikan Islam di Indonesia, Rineka Cipta, Jakarta: 2009
Prof. Dr. H. Jalaluddin, Teologi Pendidikan, RajaGrafindo Persada,Jakarta : 2003
Prof. Dr. H. Muhaimin MA dalam buku yang berjudul Paradigma Pendidikan Islam : Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama di Sekolah, Remaja Rosdakarya, Bandung: 2001.
Qomar, Mujamil,. 2005. Epistemologi Pendidikan Islam Dari Metode Rasional Hingga Metode Kritik  Jakarta: Erlangga.
Ridla, Muhammad Jawad, Al-Fikr Al-Tarbawiy Al-Islamiy; Muqoddimah fi Usulihi Al-Ijtimaiyyah wa Al-Aqlaniyah, t.k.: Dar Al-Fikr Al-Arabiy, t.t.
T.Yacob, 2004. Manusia Ilmu dan Teknologi dalam Ahmad Tafsir,Prof.Dr.Filsafat Ilmu. Semarang: CV Sumber Ilmu.
Thomas Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, edisi ke-2, Chicago: University of Chicago Press, 1970
Thomas, Linda ; Wareing, Shan. 2007. Bahasa, Masyarakat & Kekuasaan. Terj. Sunoto et. al., Yogyakarta: Pustaka Pelajar.



[1] Endang Saifudin Anshari, Ilmu Filsafat dan Agama. (Surabaya: Bina Ilmu, 2008) hal. 48.
[2] Ibid .hal.49
[3] Ibid, hal. 33
[4] T.Yacob, Manusia Ilmu dan Teknologi dalam Prof.Dr. Ahmad Tafsir .Filsafat Ilmu. 2004. hal:45
[5] Ibid. hal:35
[6] Ibid. hal 37
[7] K.Wardiyatmoko, Geografi SMA,Kelas XII IPS. (Bandung: Erlangga, 2005) . hal. 14.
[8] Pendekatan "kontras”, merupakan salah satu tahap dalam upaya meretas jalan ini karena ia mengusulkan suatu cara sederhana yang menarik, yaitu dengan mencegah konflik yang muncul dari peleburan. Guna menghindari permusuhan timbal-balik yang niscaya bisa muncul karena peleburan itu, para pendukung pendekatan yang kedua ini sering secara lihai mengatakan bahwa kita harus (tanpa kompromi) mewadahi sains dan agama dalam kotak-kotak terpisah. Untuk menghindari kesan kontradiksi di antara mereka, kita mesti tidak pernah membolehkan mereka lolos dan masuk ke dalam arus makna umum.
[9] Gerald schroeder, Genesis and the Big Bang: The Discovery of Harmony Between Modern Science and the Bible, New York: Bantam Books, 1990
[10] Pendekatan ini setuju bahwa sains dan agama jelas berbeda secara logis dan linguistik, tetapi dia tahu bahwa, dalam dunia nyata, mereka tidak bisa dikotak-kotakkan dengan mutlak, sebagaimana diandaikan oleh kubu pendekatan kontras.
[11] Ian G. Barbour yang mengemukakan teori “Integrasi” dapat terjadi pada kalangan yang mencari titik temu antara agama dan sains. Tiga versi integrasinya adaah: Natural Theology, Theology of Nature, dan Sintesis Sistematis. Lihat pada web side URL: http://guardyan.blogspot.com/2013/09/tipologi-hubungan-sains-dan-agama.html, diakses tanggal 23 September 2013.
[12] Ian Barbour, dalam bukunya yang penting, Religian in an Age of Science, New York: Harper & Row, 1990, h. 15
[13] Thomas Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, edisi ke-2, Chicago: University of Chicago Press, 1970
[14] Haught mau meleburkan sebagian besar uraian Barbour mengenai pendekatan dialog dan integrasi menjadi kategori ketiga (yang Haught sebut pendekatan “kontak”), lalu Haught tambahkan satu tipologi keempat yang lebih jelas, yaitu pendekatan "konfirmasi", tujuannya ialah untuk mengedepankan semakin banyaknya studi teologis yang menghasilkan cara-cara yang lebih mendalam yang di dalamnya agama dan teologi melandasi dan memelihara seluruh kegiatan ilmiah.
[15] Ini adalah sebuah pendekatan yang secara khusus didukung oleh tulisan-tulisan Bernard Lonergan, S.J. Lihat terutama bukunya, Insight: A Study of Human (Understanding, New York: Philosophical Library, 1970
[16] Bryan Appleyard, Understanding the Present, Science and the Soul of Modern Man, New York Doubleday, 1993
                [17]             Hanafi Ahmad,  Al-Tafsîr al-‘Ilmiy li al-Âyât al-Kawniyyah fi al-Qur’ân (Bairut: tp, tt), cet. ke-2, hal. 6.
                [19]             Lihat, http://www.keajaibanalquran.com/physics iron.html. (diakses pada: 23/09/2013). Bandingkan juga terjemahan kataانزلنا  “Kami turunkan/ciptakan”, dalam “Tafsir Al-Misbah” karya M. Quraish Shihab (Jakarta: Lentera Hati, 2003), volume: 14, hlm. 46.
                [20]Ibid., http://www.keajaibanalquran.com/physics iron.html.
                [21]Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya, hlm. 203.
                [22]Dikutip dari makalah dengan tema: “Beberapa Contoh Penafsiran Ayat-ayat Kauniyah dalam Al-Qur’an, ditulis oleh: Tim Asistensi Ayat Kauniyah LIPI, Jurnal Lektur Keagamaan, (Jakarta: Puslitbang Letktur Keagamaan Balitbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI, 2005), vol.3, no.2, hlm. 175.

No comments:

Post a Comment